Senin, 22 April 2013

Goodbye March 2013

Seperti yang kita tahu, bulan maret memang sudah lama berlalu, tapi bukan berarti kenangan yang ada di dalamnya, entah yang manis atau yang pahit atau yang asam sekaligus, ikut berlalu begitu saja. Dan saya belum benar-benar berucap "selamat tinggal" pada apapun itu yang selama ini diam-diam masih tinggal di hati saya.

Well, selamat bulan april dan selamat Hari Kartini para perempuan Indonesia. Saya jadi teringat judul buku yang berisi kumpulan surat Ibu Kartini yang berjudul "Habis Gelap, Terbitlah Terang" yang melekat dalam ingatan saya sejak SD. Dan dari sanalah, saya mengumpamakan bulan april sebagai cahaya yang terang tentu saja, dan bulan maret sebagai sesuatu yang *ehm* gelap. Gelap seringkali identik dengan mati lampu malam dan malam identik dengan tidur. Tapi sayangnya lagu "Wake Me Up When September Ends" milik Green day tak bisa menjadi #musictuation dari kondisi itu, karena ternyata om Billie ingin dibangunkan saat september berakhir bukan saat maret berakhir *sigh*.

Sampai di sini, postingan saya terlihat cukup kusut, tak jelas, tak punya benang merah (di rumah cuma ada benang putih sama hitam), seperti keadaan otak saya saat ini. Maka, biarlah saya menguraikannya dengan jemari saya.

Kemarin, saya berpikir dan berharap maret tahun ini akan berbeda dengan maret-maret sebelumnya, tanpa hati yang berkabung, apalagi dengan datangnya seseorang dalam hidup saya yang hampir selama tiga tahun lamanya hanya saya tempati sendiri dengan berbagai mimpi saya. Saya berusaha menjaga diri saya untuk tidak melayang dan tetap berdiri di tanah, walaupun tanpa saya sadari saya sudah setengah terbang. Tapi harapan meamang tetap hanya harapan. Kenyataan seringkali tak berjalan lurus dengan harapan. Seseorang itu mungkin bukan seseorang yang saya tunggu, mungkin dia hanya "numpang parkir" yang saya salah artikan. Dan setelahnya saya seperti mengingkari keadaan saya, saya berusaha bersikap baik-baik saja seperti tak pernah merasakan ada yang pernah menancap pada hati saya.

Dan terimakasih pada kakak-kakak saya yang sudah menjejalkan berbagai macam nasehat disertai kalimat "dia tak pantas" walaupun seringkali diselingi curcol. Terima kasih pada sahabat dan teman-teman saya yang selalu ada saat saya butuh; Asti, Maya; yang dari awal memang menunjukkan rasa tak suka padanya, Ummul; yang dengan kelakuannya secara tidak sengaja membuat saya akhirnya  sadar bahwa dia memang tak pantas dipikirkan, tak pantas tinggal di kepala saya dalam kurun waktu yang lama. Dan tentunya terimakasih pada seseorang yang sudah saya anggap sebagai kakak (semoga dia membacanya) yang sudah bersedia mendengarkan dan menanggapi curhatan random tengah malam saya  walaupun saat itu dia juga sedang mempunyai masalah dengan hatinya "Terimakasih sudah membuat saya tertawa lepas sampai lupa bahwa hati saya sedang patah, semoga kamu bisa meraih mimpi untuk menjadi kopasus atau paling tidak menjadi seorang rapper, agar semua orang tahu rasa nasionalismu yang besar itu." (sumpah demi apa, ini benar-benar seperti naskah pembukaan pidato).

Saya lupa satu hal, terimakasih kepadanya juga, karena dengan bersamanya (walaupun dengan waktu yang begitu singkat) saya belajar banyak hal. Saya belajar menghargai seseorang, belajar menerima seseorang apa adanya dan bukan ada apanya, belajar melakukan sesuatu yang dulunya tak saya suka, yang jarang saya lakukan, yang dulu saya cela dan saya hindari bahkan mengklaim diri saya sebagai kubu "anti'. Mungkin lagu "cukup dalam hati saja" milik The Ox cukup bisa menggambarkannya. Dan tentunya terimakasih telah membuat saya menjadi begitu labil.
 
 

Mungkin karena penyangkalan-penyangkalan itu atau ada hal lain, beberapa hari yang lalu saya benar-benar merasa berada pada level paling bawah dalam hidup saya, kesepian yang benar-benar mengikat, dan yeah, saya merasa sendiri dalam artian yang sebenarnya. Saya merasa kehilangan sesuatu sebelum saya sempat menyadari apa yang sudah saya temukan. Tapi, lagi-lagi saya teringat pada kalimat "Make your life better, girl" yang tertempel pada dinding kamar saya, yang membuat saya tiba-tiba merasa semangat untuk kembali bangkit dan berjalan lagi. Terimakasih pada pada seseorang yang pernah mengucapkan kalimat itu pada saya. :))

Dan akhirnya saya harus berucap "Selamat tinggal, Maret" dan "Selamat tinggal, Kamu". Semoga setelah ini saya benar-benar melangkah pergi. Tidak terlalu lama tinggal dalam masa lalu lagi.
 


 
So?
 
 
 
 
and
 
 

Sekian postingan random saya kali ini. Wassalam.
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar